Pada tahun 1851, ketika Kakawin Sutasoma kembali
disalin di atas daun lontar dan frasa Bhinneka Tunggal Ika bersemayam
sebagai pesan kebijaksanaan Nusantara, di Lombok lahir seorang bayi yang kelak
menjadi ulama besar. Bayi itu bernama Muhammad Arifbillah, tokoh yang jejak
hidupnya menautkan spiritualitas, kekayaan, dan pengabdian sosial dalam satu
tarikan napas panjang sejarah Sasak.
Ia lahir di tengah pergolakan zaman kolonialisme Belanda
yang kian menancap, perubahan sosial yang bergulir pelan, dan masyarakat Lombok
yang masih berada di persimpangan antara Islam, adat, dan kepercayaan leluhur.
Dari rahim sejarah itulah TGH. Muhammad Arifbillah tumbuh, bukan sekadar
sebagai tuan guru, tetapi sebagai fenomena sosial dan spiritual.
Arifbillah berasal dari keluarga ulama. Ayahnya, Tuan Haji
Abdurahman, adalah pendakwah yang menempuh jalan sunyi namun berdampak luas. Ia
tidak memaksakan Islam dengan keras, melainkan memperkenalkannya melalui
teladan, kerja, dan ketekunan menggarap tanah. Dakwah agraria menjadi pintu
masuk ; sawah, ladang, dan hasil bumi menjadi bahasa Islam yang paling mudah
dipahami masyarakat.
Di wilayah Lombok Barat khususnya Mesanggok, masyarakat saat
itu masih kuat dengan tradisi wetu telu, sebuah bentuk sinkretisme
antara Islam, adat, dan kepercayaan leluhur. Alih-alih merobohkan, Haji
Abdurahman merawat. Ia menanam padi sekaligus menanam tauhid. Jalan inilah yang
kelak diwarisi Arifbillah.
Kehidupan
Yang Membumi, Berdakwah Dengan Ngamarin
Muhammad Arifbillah kecil yang semula bernama Tarwiah, tumbuh
sebagai anak desa pada masa sulit. Ia membantu ibunya di sawah, mencari kayu
bakar ke bukit-bukit, lalu bermain dan belajar setelah kebutuhan dapur
terpenuhi. Hidupnya keras, tetapi justru di situlah karakternya ditempa. Rumah
keluarganya menjadi tempat bertanya soal agama, soal penjajah, hingga soal
sengketa sosial. Mereka adalah “oase” di tengah masyarakat, tempat orang datang
membawa masalah dan pulang membawa ketenangan.
Sekitar awal abad ke-20, Arifbillah berangkat ke Hijaz.
Perjalanan itu bukan perjalanan biasa. Ia belajar selama 18 tahun melewati masa
sulit Perang Dunia Pertama, ketika kehidupan di Mekah serba mahal dan berat. Di
sana, Arifbillah berguru pada ulama besar, hingga akhirnya memperoleh ijazah
sebagai Mursyid Thariqah Qadiriyah wa Naqsyabandiyah dari Syekh Abdul Karim
al-Bantani. Ia juga memperdalam ilmu di Madinah dan mendapatkan sanad Dalailul
Khairat.
Sekembalinya ke Lombok, masyarakat memberinya gelar Tuan
Guru Haji (TGH), gelar yang tidak sembarang disematkan. Gelar itu lahir
dari pengakuan sosial, bukan pengangkatan struktural.
Berbeda dengan banyak tuan guru lain, TGH. Muhammad
Arifbillah tidak mendirikan pondok pesantren. Dakwahnya adalah dakwah “ngamarin”
berkeliling dari desa ke desa, tinggal berbulan-bulan, mengajar, menyelesaikan
masalah warga, lalu berpindah.
Rute dakwahnya melintasi Mesanggok, Sekotong, Kuripan,
Praya, hingga Lombok Tengah. Ia merawat Islam kultural, memperkuat tradisi
ahlussunnah wal jamaah dan menjadi fondasi tumbuhnya Nahdlatul Ulama di Lombok.
Zikir Saman yang masih hidup hingga hari ini di Mesanggok dan sekitarnya adalah
salah satu jejak dakwahnya.
Ulama
Kaya Raya dan Karomah yang Hidup dalam Ingatan
Di sinilah kisah TGH. Arifbillah menjadi unik,bahkan nyaris
paradoksal. Ia dikenal sebagai ulama kaya raya di Desa Mesanggok. Tanah
sawahnya mencapai puluhan hektar, kolam ikannya terbentang luas, ternaknya
berlimpah. Ia membeli banyak barang bagus, memborong hasil bumi, dan memiliki
kekayaan materi yang luar biasa.
Namun, kekayaan itu bukan untuk ditumpuk. Kolam ikan
miliknya tidak pernah dijual hasilnya semua untuk warga. Sawahnya menopang
dakwah. Hartanya menjadi alat perjuangan. Baginya, “sebelum menguasai dunia,
belum sempurna menjadi guru.”
Cerita karomah TGH. Arifbillah hidup dari mulut ke mulut.
Periuk nasi yang tak pernah habis, cukup memberi makan ratusan jamaah.
Kemampuannya berada di beberapa tempat dalam satu waktu. Orang-orang yang
hendak mencelakainya justru terdiam tak bergerak, seolah terperangkap lumpur
tak kasatmata. Semua kisah itu, benar atau tidak secara rasional, adalah cermin
dari kepercayaan masyarakat terhadap kewalian dan integritas moralnya.
TGH. Muhammad Arifbillah wafat pada 1946, setahun setelah
Indonesia merdeka, di usia 95 tahun. Ia meninggalkan ribuan jamaah, ratusan
keturunan, murid-murid yang menjadi tuan guru, dan satu warisan besar Islam
yang membumi, ramah, dan berdaya secara sosial-ekonomi. Di tengah zaman yang
sering mempertentangkan kesalehan dan kekayaan, TGH. Arifbillah justru
mempersatukannya. Ia membuktikan bahwa ulama tidak harus miskin, dan orang kaya
tidak harus jauh dari umat. Namanya mungkin tidak tercetak di buku sejarah
nasional, tetapi di Mesanggok dan Lombok, kisahnya hidup seperti periuk nasinya
yang tak pernah kosong.

0 Comments:
Posting Komentar