Pola pikir orang NU (termasuk
penulis) diberbagai tingkatan memandang bahwa keberadaan NU dicurahkan orientasinya
lebih pada khidmah keagamaan. Atas peran itu, maka NU dianggap akan tetap ada, tumbuh
senantiasa relevan mengikuti waktu dan zamannya (shalih likulli zaman wa
makan). Diperkuat lagi dengan kepercayaan bahwa NU dilahirkan dan dijaga
oleh para ulama dan Aulia.
Dilain sisi, sebagai orang
yang mengaku berpaham Ahlussunnah waljamaah, meletakkan usaha dan kerja
keras (ikhtiar) sebagai sarana dalam mencapai cita-cita dan mewujudkan tujuan.
Dengan berkeyakinan ada usaha dan kerja keras baru ada hasil maka, keberadaan
NU tidak bisa dibairakan mengalir begitu saja, larut dalam arus agenda dan
rutinitas seremonial tanpa tujuan dan target jelas serta terukur, tanpa
kehendak untuk ikut menentukan arah dinamika masyarakat. Sungguh itu
kesia-siaan yang kurang baik dan tak berdampak.
Teknokrasi NU sangatlah
penting, eksistensi NU tidak bisa dibiarkan tumbuh dan berkembang dengan hanya
meyakini bahwa “NU dijaga oleh para wali dan ulama”, program dan aktivitasnya
berjalan lepas begitu saja sesuai keinginan pengurus, serba seremonial,
kondisional dan momentuman. NU bisa tertinggal dan ditinggal jika tidak cepat
berubah, berevolusi merespon dunia didalam dan diluar dirinya. NU tidak boleh
terjebak dalam kejumudan, tumpul tak terarah, hanya mengeloni SK Kepengurusan
setelah itu dilantik dan selesai. Dalam konsep “Governing NU” yang digagas Gus
Yahya, situasi itulah yang hendak dirubah.
NU harus berjuang membangun
kapasitas untuk hadir secara lebih bermakna ditengah masyarakat, memahami jati
dirinya, memahami kedudukannya ditengah keseluruhan konstelasi, kontestasi dan
dinamika masyarakat. Memahami kepentingan-kepentingannya, memahami tujuan,
membangun dan mengembangkan strategi, menetapkan target, serta agenda-agenda taktis
dan strategis yang berdampak menjawab kebutuhan jam’iyah dan jamaahnya.
Teknokrasi NU adalah konsep
dimana Nahdlatul Ulama memperkuat diri (organisasinya) dengan menggabungkan kekuatan
nilai-nilai tradisional dan semangat gotong royong sebagai kekhasan NU dengan
keahlian teknis, profesionalisme dan kemampuan profesional dalam memimpin dan
mengelola organisasi. Yang berarti menggabungkan dan mengkonsolidasi unsur
karakteristik NU yang bersifat sukarela dan tradisional dengan prinsip
teknokrasi dimana keputusan dibuat berdasarkan data, bukti empiris dan keahlian
teknis (meritokrasi) bukan semata-mata karena politik dan opini publik.
Teknokrasi kerja-kerja NU
dibidang agama, sosial, pendidikan, kesehatan, ekonomi, budaya dan pemberdayaan
masyarakat harus dimulai dan dilakukan, dengan mengembalikan dan menyelami
lebih dalam posisi NU sebagi organisasi keagamaan dan kemasyarakatan (Jam’iyyah
Diniyyah Ijtima’iyyah). Memahami dan menyeimbangkan antara kepedulian pada
masalah keagamaan dengan masalah-masalah kemasyarakatan. Sehingga kinerja
dan manfaat khidmah yang diperjuangkan bisa dilihat, diukur dan diketahui
dampak serta manfaatnya oleh orang NU sendiri maupun oleh masyarakat luas
diluar NU. Sebagaimana pesan Al marhum Gus Dur yang menekankan perubahan
sosial yang berkelanjutan, menjaga nilai-nilai kemanusiaan universal dan sikap
sabar dan konsisten dalam mengembangkan organisasi.
Jika tidak, maka NU bisa
dianggap tidak menarik, tertinggal dan akan ditinggalkan baik oleh jama'ahnya
maupun orang lain. Keberadaannya hanya dianggap sebagai ruang kumpul, bertemu dan
ngobrol semata, tidak ada hal yang menarik untuk diikuti.
Kecendrungan sudah nampak
didepan mata kita, ada fakta bahwa berorganisasi kian tidak diminati oleh kaum
muda (generasi milenial dan generasi Z). Pada beberapa anak muda, berorganisasi
dirasa tidak memberikan dampak pada kehidupannya, diatur-atur, tidak ada
kebebasan, lambat melakukan perubahan. Belum lagi merasa tertekan ketika
melakukan hal-hal yang dianggap berbeda dan lebih maju karena relasi
senior-yunior. Situasi semacam ini kian tak diminati oleh kaum muda.
Fakta yang ada, kini tanpa berorganisasi
orang lebih mudah dan cepat melakukan perubahan, mengajak dan mempengaruhi
orang lain bertindak tidak harus ijin, tidak membutuhkan diskusi-konsolidasi
panjang penuh debat dan pertentangan. Uniknya lagi tidak butuh biaya mahal
untuk beracara, yang ada justru menghasilkan benefit langsung dan perubahan
sosial terjadi, manfaat yang didapatkan masyarakat juga langsung dirasakan. Di organisasi
hal-hal itu sulit dilakukan.
Kini perubahan sosial bisa
dengan mudah dilakukan oleh orang per orang dengan hanya bermodalkan kekuatan
media sosial, bahkan untuk melawan dan menumbangkan kekuatan negara sekalipun mereka
bisa lakukan dengan mudah dan cepat. Kejadian bulan agustus kemaren dan di Nepal
contohnya, penggerakkanya adalah individu dari anak-anak muda.
Untuk itu, teknokrasi ditubuh
NU harus dimulai dan dilakukan, kemampuan merespon kecendrungan perubahan zaman
harus ditingkatkan, menghadirkan posisi NU sebagai oraganisasi keagamaan dan kemasyarakatan
ke generasi milenial dan generasi Z adalah keharusan. Dalam kegiatan Tik Talk
Lakpesdam NU NTB, M.Nurkhoiron membeberkan temauannya dengan menyatakan “Pada
beberapa kelompok anak muda, mereka meyakini adanya tuhan, namun tidak cukup
suka dan percaya dengan lembaga dan organisasi keagamaan”. Penomena seperti
ini harus direspon, tampilan organisasi keagamaan seperti NU hendaklah adaptif
dan mencarikan jalan. NU harus bertahan dengan nilai-nilai yang dianutnya,
namun disertai kemampuan metamorfosa dan bertransformasi menjawab model
beragama dan gaya hidup anak-anak muda saat ini.
Ketimpangan dalam wawasan
pengabdian NU pada masyarakat yang sangat heterogen harus dijawab oleh para
intelektual, Kiai, ustazd, aktivist serta cerdik pandai NU. Para cerdik pandai NU penting berbenah diri,
merespons kondisi yang berbeda dengan budaya yang selama ini dianut dan
dipraktekkan warga NU. Doktrin al-muhafadhah
'alal qadimis shalih wal akhdzu bil jadidil ashlah, harus mampu
diterjemahkan oleh para cerdik pandai NU, biar NU senantiasa sahih dan mutawattir
bermetamorfosa shalih likulli zaman wa makan berkhidmah mewujudkan bukti
bakti yang dipesankan Rais syuriah PWNU NTB Datoq Bagu.
Wallohua’lam

0 Comments:
Posting Komentar