PONSEL DAN TOPENG KEHIDUPAN
Sore hampir beranjak menuju malam ketika seorang sahabat datang bertamu ke rumah. Ada yang berbeda dari wajahnya. Biasanya ia datang dengan cerita-cerita ringan, dengan tawa yang mudah pecah di antara tegukan kopi. Tetapi sore itu tidak.
Wajahnya
menyimpan sesuatu.
Aku
menyodorkan secangkir kopi, lalu bertanya,
“Dari
mana saja? Kelihatannya lelah sekali.”
Ia diam
sebentar.
“Dari
rumah teman,” jawabnya pendek.
Aku
menunggu cerita berikutnya.
“Tapi...”
ia menarik napas, “dia hanya bicara dengan HP-nya, bukan dengan saya.”
Kalimat
itu sederhana. Namun entah mengapa, setelah ia mengucapkannya, suasana sore
terasa berubah.
Aku
kemudian berpikir: barangkali kita tidak sedang kehilangan waktu, tetapi sedang
kehilangan kehadiran.
Kita
bisa duduk berjam-jam dalam satu ruangan, tetapi tidak benar-benar bersama.
Kita
ada di rumah, tetapi pikiran kita entah berada di mana.
Kita
duduk bersama tamu, tetapi jemari kita sibuk mengusap layar.
Kita
berkumpul dengan teman, tetapi mata kita lebih sering menatap notifikasi.
Kita
bersama anak dan pasangan, tetapi perhatian kita terpecah oleh pesan yang
sebenarnya bisa menunggu.
Bahkan
terkadang kita sedang berbicara dengan seseorang, tetapi sesungguhnya kita
sedang menunggu seseorang yang lain hadir di layar ponsel.
Di
situlah paradoks kehidupan modern bermula.
Kita semakin mudah terhubung, tetapi semakin sulit benar-benar berjumpa.
Teknologi membuat jarak menjadi pendek, tetapi kadang-kadang justru membuat orang yang berada paling dekat terasa begitu jauh.
Ponsel
awalnya diciptakan untuk membantu manusia berkomunikasi. Tetapi tanpa sadar,
kita justru mulai membiarkan benda itu mengambil alih cara kita berkomunikasi.
Kita
mencari kabar dari orang yang jauh, sementara lupa menanyakan kabar orang yang
duduk di samping kita.
Kita
sibuk memberikan tanda suka kepada kehidupan orang lain, tetapi lupa menikmati
kehidupan yang sedang berlangsung di hadapan mata.
Kita
mengejar perhatian di dunia maya, sementara perhatian dari orang-orang terdekat
perlahan kita abaikan.
Pada
titik tertentu, ponsel bukan lagi sekadar alat.
Ia
berubah menjadi topeng.
Topeng
yang membuat kesibukan terlihat seperti produktivitas.
Topeng
yang membuat keterhubungan terlihat seperti kedekatan.
Topeng
yang membuat kehadiran fisik tampak seperti kehadiran emosional.
Kita
hadir, tetapi tidak benar-benar ada.
Kita
mendengar, tetapi tidak benar-benar menyimak.
Kita
melihat, tetapi tidak benar-benar memperhatikan.
Kita
berbicara, tetapi hati kita mungkin sedang berada di tempat lain.
Dan
yang paling mengkhawatirkan, semua itu berlangsung begitu biasa sehingga kita
tidak lagi merasa sedang kehilangan sesuatu.
Barangkali
inilah bentuk kesepian yang paling aneh pada zaman kita:
Sepi
di tengah keramaian dan ramai di tengah kesepian.
Kita memiliki ratusan teman di media sosial, tetapi tidak selalu memiliki seseorang yang bisa diajak berbicara dari hati ke hati.
Kita
menerima puluhan pesan setiap hari, tetapi belum tentu ada satu percakapan yang
benar-benar menyentuh perasaan.
Kita
mengetahui apa yang sedang terjadi di berbagai belahan dunia, tetapi kadang
tidak mengetahui bahwa orang terdekat kita sedang terluka.
Lalu,
apa yang sebenarnya sedang terjadi pada diri kita?
Mungkin
bukan ponselnya yang salah.
Bukan
pula teknologi yang harus kita musuhi.
Sebab
teknologi hanyalah alat.
Yang
perlu kita periksa adalah cara kita menggunakannya dan sejauh mana kita
membiarkannya mengendalikan perhatian, pikiran, bahkan perasaan kita.
Sebab
manusia bukan sekadar makhluk yang membutuhkan koneksi internet.
Manusia
adalah makhluk yang membutuhkan sentuhan, tatapan, percakapan, perhatian, kasih
sayang, dan kehadiran.
Ada
sesuatu yang tidak dapat digantikan oleh layar.
Tatapan
seorang ibu kepada anaknya.
Senyum
seorang sahabat ketika mendengar cerita.
Pelukan
seorang ayah.
Percakapan
panjang dengan pasangan.
Secangkir
kopi yang diminum sambil berbicara tentang kehidupan.
Atau
sekadar duduk diam bersama seseorang tanpa perlu membuka ponsel.
Semua
itu adalah bentuk-bentuk kehadiran yang tidak memiliki tombol like, share,
atau comment.
Namun
justru di sanalah letak nilai kemanusiaan kita.
Karena
itu, mungkin sesekali kita perlu meletakkan ponsel.
Bukan
karena kita membenci teknologi.
Tetapi
karena kita ingin kembali menemukan manusia di dalam diri kita.
Saat
makan bersama keluarga, letakkan ponsel.
Saat
seorang sahabat bercerita, dengarkan.
Saat
anak memanggil, menoleh dan hadirkan mata.
Saat
pasangan berbicara, hadirkan hati.
Saat
orang tua membutuhkan perhatian, jangan biarkan layar menjadi alasan untuk
menunda.
Sebab
ada banyak hal dalam kehidupan yang apabila terlewat, tidak bisa diulang dengan
tombol refresh.
Kita
bisa membuka kembali pesan.
Kita
bisa melihat ulang foto.
Kita
bisa memutar kembali video.
Tetapi
kita tidak bisa mengulang masa kecil anak-anak kita.
Tidak
bisa mengulang percakapan dengan orang tua yang telah pergi.
Tidak
bisa mengembalikan waktu yang hilang bersama sahabat.
Dan
tidak bisa meminta kembali kesempatan ketika seseorang yang kita cintai
sebenarnya hanya membutuhkan kita untuk hadir dan mendengarkan.
Mungkin
karena itu agama, norma kesusilaan, budaya, tradisi, dan kearifan yang tumbuh
di tengah masyarakat perlu terus kita rawat.
Semuanya
mengajarkan satu hal yang sederhana:
manusia
tidak hidup sendirian.
Kita
membutuhkan orang lain untuk menjadi manusia.
Kita
membutuhkan silaturahmi untuk menjaga rasa.
Kita
membutuhkan kebersamaan untuk merawat kepedulian.
Dan
kita membutuhkan kesadaran agar kemajuan zaman tidak membuat kita kehilangan
jati diri.
Jangan
sampai kemajuan teknologi justru membuat kita semakin jauh dari orang-orang
yang paling dekat.
Jangan
sampai layar menjadi jendela untuk melihat dunia, tetapi sekaligus menjadi
tembok yang memisahkan kita dari kehidupan nyata.
Sebab
pada akhirnya, hidup bukan tentang seberapa banyak orang yang mengetahui
keberadaan kita di dunia maya.
Hidup
adalah tentang seberapa tulus kita hadir dalam kehidupan orang-orang yang
berada di sekitar kita.
Maka,
sebelum membuka layar ponsel, mungkin ada baiknya kita bertanya kepada diri
sendiri:
“Siapa
yang sedang berada di hadapanku dan membutuhkan kehadiranku sekarang?”
Barangkali
jawabannya adalah anak kita.
Barangkali
pasangan kita.
Barangkali
orang tua.
Barangkali
seorang sahabat.
Atau
mungkin seseorang yang sedang diam-diam menunggu kita untuk sekadar
mendengarkan.
Mari
sesekali menanggalkan topeng kehidupan itu.
Mari
kembali saling melihat, saling mendengar, saling memahami.
Karena
teknologi boleh semakin pintar, tetapi jangan sampai manusianya justru semakin
kehilangan rasa.
Yuk,
kita saling asah, saling asih, dan saling asuh.
Saling
mengingatkan ketika salah.
Saling
menegur ketika lupa.
Dan
saling menguatkan agar kita tidak kehilangan diri sendiri di tengah dunia yang
semakin ramai, tetapi semakin mudah membuat manusia merasa sendirian.
Sebab
pada akhirnya, yang paling kita butuhkan bukan sekadar koneksi.
Kita
membutuhkan kehadiran.
Semoga
bermanfaat.
H. Marinah Hardi