PONSEL DAN TOPENG KEHIDUPAN

Oleh: Admin Lakpesdam NTB • Dipublikasikan: Rabu, 19 Agustus 2026


Sore hampir beranjak menuju malam ketika seorang sahabat datang bertamu ke rumah. Ada yang berbeda dari wajahnya. Biasanya ia datang dengan cerita-cerita ringan, dengan tawa yang mudah pecah di antara tegukan kopi. Tetapi sore itu tidak.

Wajahnya menyimpan sesuatu.

Aku menyodorkan secangkir kopi, lalu bertanya,

“Dari mana saja? Kelihatannya lelah sekali.”

Ia diam sebentar.

“Dari rumah teman,” jawabnya pendek.

Aku menunggu cerita berikutnya.

“Tapi...” ia menarik napas, “dia hanya bicara dengan HP-nya, bukan dengan saya.”

Kalimat itu sederhana. Namun entah mengapa, setelah ia mengucapkannya, suasana sore terasa berubah.

Aku kemudian berpikir: barangkali kita tidak sedang kehilangan waktu, tetapi sedang kehilangan kehadiran.

Kita bisa duduk berjam-jam dalam satu ruangan, tetapi tidak benar-benar bersama.

Kita ada di rumah, tetapi pikiran kita entah berada di mana.

Kita duduk bersama tamu, tetapi jemari kita sibuk mengusap layar.

Kita berkumpul dengan teman, tetapi mata kita lebih sering menatap notifikasi.

Kita bersama anak dan pasangan, tetapi perhatian kita terpecah oleh pesan yang sebenarnya bisa menunggu.

Bahkan terkadang kita sedang berbicara dengan seseorang, tetapi sesungguhnya kita sedang menunggu seseorang yang lain hadir di layar ponsel.

Di situlah paradoks kehidupan modern bermula.


Kita semakin mudah terhubung, tetapi semakin sulit benar-benar berjumpa.

Teknologi membuat jarak menjadi pendek, tetapi kadang-kadang justru membuat orang yang berada paling dekat terasa begitu jauh.

Ponsel awalnya diciptakan untuk membantu manusia berkomunikasi. Tetapi tanpa sadar, kita justru mulai membiarkan benda itu mengambil alih cara kita berkomunikasi.

Kita mencari kabar dari orang yang jauh, sementara lupa menanyakan kabar orang yang duduk di samping kita.

Kita sibuk memberikan tanda suka kepada kehidupan orang lain, tetapi lupa menikmati kehidupan yang sedang berlangsung di hadapan mata.

Kita mengejar perhatian di dunia maya, sementara perhatian dari orang-orang terdekat perlahan kita abaikan.

Pada titik tertentu, ponsel bukan lagi sekadar alat.

Ia berubah menjadi topeng.

Topeng yang membuat kesibukan terlihat seperti produktivitas.

Topeng yang membuat keterhubungan terlihat seperti kedekatan.

Topeng yang membuat kehadiran fisik tampak seperti kehadiran emosional.

 

Kita hadir, tetapi tidak benar-benar ada.

Kita mendengar, tetapi tidak benar-benar menyimak.

Kita melihat, tetapi tidak benar-benar memperhatikan.

Kita berbicara, tetapi hati kita mungkin sedang berada di tempat lain.

Dan yang paling mengkhawatirkan, semua itu berlangsung begitu biasa sehingga kita tidak lagi merasa sedang kehilangan sesuatu.

Barangkali inilah bentuk kesepian yang paling aneh pada zaman kita:

 

Sepi di tengah keramaian dan ramai di tengah kesepian.

Kita memiliki ratusan teman di media sosial, tetapi tidak selalu memiliki seseorang yang bisa diajak berbicara dari hati ke hati.

Kita menerima puluhan pesan setiap hari, tetapi belum tentu ada satu percakapan yang benar-benar menyentuh perasaan.

Kita mengetahui apa yang sedang terjadi di berbagai belahan dunia, tetapi kadang tidak mengetahui bahwa orang terdekat kita sedang terluka.

Lalu, apa yang sebenarnya sedang terjadi pada diri kita?

Mungkin bukan ponselnya yang salah.

Bukan pula teknologi yang harus kita musuhi.

Sebab teknologi hanyalah alat.

Yang perlu kita periksa adalah cara kita menggunakannya dan sejauh mana kita membiarkannya mengendalikan perhatian, pikiran, bahkan perasaan kita.

Sebab manusia bukan sekadar makhluk yang membutuhkan koneksi internet.

Manusia adalah makhluk yang membutuhkan sentuhan, tatapan, percakapan, perhatian, kasih sayang, dan kehadiran.

 

Ada sesuatu yang tidak dapat digantikan oleh layar.

Tatapan seorang ibu kepada anaknya.

Senyum seorang sahabat ketika mendengar cerita.

Pelukan seorang ayah.

Percakapan panjang dengan pasangan.

Secangkir kopi yang diminum sambil berbicara tentang kehidupan.

Atau sekadar duduk diam bersama seseorang tanpa perlu membuka ponsel.

Semua itu adalah bentuk-bentuk kehadiran yang tidak memiliki tombol like, share, atau comment.

Namun justru di sanalah letak nilai kemanusiaan kita.

Karena itu, mungkin sesekali kita perlu meletakkan ponsel.

Bukan karena kita membenci teknologi.

Tetapi karena kita ingin kembali menemukan manusia di dalam diri kita.

 

Saat makan bersama keluarga, letakkan ponsel.

Saat seorang sahabat bercerita, dengarkan.

Saat anak memanggil, menoleh dan hadirkan mata.

Saat pasangan berbicara, hadirkan hati.

Saat orang tua membutuhkan perhatian, jangan biarkan layar menjadi alasan untuk menunda.

Sebab ada banyak hal dalam kehidupan yang apabila terlewat, tidak bisa diulang dengan tombol refresh.

 

Kita bisa membuka kembali pesan.

Kita bisa melihat ulang foto.

Kita bisa memutar kembali video.

Tetapi kita tidak bisa mengulang masa kecil anak-anak kita.

Tidak bisa mengulang percakapan dengan orang tua yang telah pergi.

Tidak bisa mengembalikan waktu yang hilang bersama sahabat.

Dan tidak bisa meminta kembali kesempatan ketika seseorang yang kita cintai sebenarnya hanya membutuhkan kita untuk hadir dan mendengarkan.

 

Mungkin karena itu agama, norma kesusilaan, budaya, tradisi, dan kearifan yang tumbuh di tengah masyarakat perlu terus kita rawat.

Semuanya mengajarkan satu hal yang sederhana:

manusia tidak hidup sendirian.

 

Kita membutuhkan orang lain untuk menjadi manusia.

Kita membutuhkan silaturahmi untuk menjaga rasa.

Kita membutuhkan kebersamaan untuk merawat kepedulian.

Dan kita membutuhkan kesadaran agar kemajuan zaman tidak membuat kita kehilangan jati diri.

Jangan sampai kemajuan teknologi justru membuat kita semakin jauh dari orang-orang yang paling dekat.

Jangan sampai layar menjadi jendela untuk melihat dunia, tetapi sekaligus menjadi tembok yang memisahkan kita dari kehidupan nyata.

Sebab pada akhirnya, hidup bukan tentang seberapa banyak orang yang mengetahui keberadaan kita di dunia maya.

Hidup adalah tentang seberapa tulus kita hadir dalam kehidupan orang-orang yang berada di sekitar kita.

Maka, sebelum membuka layar ponsel, mungkin ada baiknya kita bertanya kepada diri sendiri:

“Siapa yang sedang berada di hadapanku dan membutuhkan kehadiranku sekarang?”

 

Barangkali jawabannya adalah anak kita.

Barangkali pasangan kita.

Barangkali orang tua.

Barangkali seorang sahabat.

 

Atau mungkin seseorang yang sedang diam-diam menunggu kita untuk sekadar mendengarkan.

Mari sesekali menanggalkan topeng kehidupan itu.

Mari kembali saling melihat, saling mendengar, saling memahami.

Karena teknologi boleh semakin pintar, tetapi jangan sampai manusianya justru semakin kehilangan rasa.

 

Yuk, kita saling asah, saling asih, dan saling asuh.

Saling mengingatkan ketika salah.

Saling menegur ketika lupa.

Dan saling menguatkan agar kita tidak kehilangan diri sendiri di tengah dunia yang semakin ramai, tetapi semakin mudah membuat manusia merasa sendirian.

Sebab pada akhirnya, yang paling kita butuhkan bukan sekadar koneksi.

Kita membutuhkan kehadiran.

Semoga bermanfaat.

 

 

H. Marinah Hardi

Bagikan Informasi Ini: